Tampilkan postingan dengan label Materi Kelas 8. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Materi Kelas 8. Tampilkan semua postingan
Jumat, 06 Maret 2020
Gangguan pada Sistem Ekskresi serta Upaya Pencegahan atau Penanggulangannya
Berikut ini beberapa gangguan atau penyakit pada sistem ekskresi manusia.
1. Nefritis
Nefritis adalah penyakit rusaknya nefron, terutama
pada bagian-bagian glomerulus
ginjal. Nefritis
disebabkan oleh infeksi bakteri Streptococcus. Nefritis mengakibatkan masuknya kembali asam urat dan urea ke pembuluh darah (uremia) serta adanya penimbunan air di
kaki
karena
reabsorpsi
air
yang terganggu (edema). Upaya penanganan
nefritis adalah dengan proses
cuci darah
atau
pencangkokan ginjal
2. Batu Ginjal
Batu ginjal adalah gangguan yang terjadi akibat terbentuknya endapan
garam kalsium di dalam rongga ginjal (pelvis renalis),
saluran ginjal, atau kandung kemih. Batu ginjal berbentuk kristal yang tidak
dapat larut. Kandungan batu ginjal adalah kalsium oksalat, asam urat, dan
kristal kalsium fosfat. Endapan ini terbentuk jika seseorang terlalu banyak
mengonsumsi garam mineral dan kekurangan minum
air serta sering menahan kencing.
Upaya mencegah terbentuknya batu ginjal adalah dengan meminum cukup air putih
setiap hari,
membatasi
konsumsi
garam karena kandungan natrium yang tinggi pada
garam dapat
memicu terbentuknya batu ginjal, serta tidak sering menahaan
kencing. Batu ginjal yang kecil
dapat saja keluar melalui urine,
tetapi seringkali menyebabkan
rasa
sakit. Batu ginjal
berukuran besar memerlukan operasi untuk mengeluarkannya.
Vitamin C dengan dosis tinggi akan meningkatkan
risiko batu ginjal, karena sebagian vitamin C yang tidak diserap tubuh akan dikeluarkan melalui
urine sebagai oksalat. Oksalat adalah salah satu komponen pembentuk
batu ginjal. Oleh karena itu, jumlah
vitamin C yang masuk dalam
tubuh harus sesuai dengan kebutuhan.
3. Albuminaria
Albuminuria merupakan penyakit yang terjadi akibat adanya kerusakan pada
glomerulus yang berperan dalam proses filtrasi, sehingga pada urine
ditemukan adanya protein.
Albuminuria dapat terjadi akibat
kurangnya asupan air ke dalam tubuh sehingga memperberat kerja ginjal, mengonsumsi
terlalu banyak protein, kalsium, dan vitamin
C dapat membuat glomerulus harus bekerja lebih keras sehingga meningkatkan risiko
kerusakannya. Upaya yang dapat dilakukan untuk mencegah albuminuria adalah
dengan mengatur jumlah garam dan protein yang dikonsumsi, serta pola hidup
sehat untuk mengatur keseimbangan gizi.
4. Hematuria
Hematuria merupakan penyakit yang ditandai dengan adanya sel- sel darah
merah pada urine. Hal ini disebabkan penyakit pada saluran kemih akibat gesekan
dengan batu ginjal. Hematuria juga dapat disebabkan oleh adanya infeksi bakteri
pada saluran kemih. Upaya pencegahan hematuria dapat dilakukan dengan segera
buang air kecil ketika ingin buang air kecil, membersihkan tempat keluarnya
urine dari arah depan ke belakang untuk menghindari masuknya bakteri dari
dubur, serta banyak minum air putih. Ketika seseorang sakit hematuria, maka
penanganan yang diberikan adalah dengan memberi antibiotik untuk membersihkan
infeksi bakteri pada saluran kemih.
5. Diabetes Insipidus
Penyakit ini disebabkan karena seseorang kekurangan hormon ADH atau
hormon antidiuretik. Kondisi tersebut menyebabkan tubuh tidak dapat menyerap
air yang masuk ke dalam tubuh, sehingga penderita akan sering buang air kecil secara terus menerus. Upaya penanganan penderita diabetes insipidus adalah dengan memberikan suntikan hormon
antidiuretik sehingga dapat mempertahankan pengeluaran urine secara normal.
6. Kanker Ginjal
Merupakan penyakit yang timbul akibat pertumbuhan sel pada ginjal yang
tidak terkontrol di sepanjang tubulus dalam ginjal. Hal ini dapat menyebabkan
adanya darah pada urine, kerusakan ginjal, dan juga dapat memengaruhi kerja organ lainnya
jika kanker ini menyebar,
sehingga dapat menyebabkan kematian. Upaya pencegahan yang dapat dilakukan
adalah dengan menghindari penggunaan bahan- bahan kimia yang memicu kanker.
7. Jerawat
Jerawat atau acne
vulgaris merupakan suatu kondisi kulit yang
ditandai dengan terjadinya penyumbatan dan peradangan pada kelenjar sebasea
(kelenjar minyak). Jerawat dapat timbul
karena kurangnya
menjaga
kebersihan
kulit sehingga berpotensi terjadi
penumpukankotorandankulitmati.Faktor
hormonal yang merangsang kelenjar minyak pada kulit, penggunaan kosmetik yang berlebihan dan mengandung minyak dapat berpotensi menyumbat pori-pori. Konsumsi makanan berlemak secara
berlebihan juga dapat menimbulkan jerawat. Jerawat pada umumnya dapat muncul
pada wajah, leher, atau punggung. Upaya pencegahan yang dapat dilakukan adalah
dengan membersihkan wajah secara rutin,
menghindari makanan berlemak, dan lebih banyak mengonsumsi buah-buahan, serta
menjaga aktivitas tubuh.
8. Biang Keringat
Biang keringat terjadi karena kelenjar keringat
tersumbat oleh sel-
sel kulit mati yang tidak dapat terbuang
secara sempurna. Perhatikan Gambar 9.18!
Keringat yang
terperangkap tersebut menyebabkan timbulnya bintik-bintik
kemerahan
yang disertai
gatal. Sel-sel
kulit
mati, debu,
dan kosmetik juga dapat menyebabkan terjadinya biang
keringat. Orang yang tinggal
di daerah tropis dan lembap, akan lebih mudah terkena biang keringat. Biasanya, anggota badan yang terkena
biang keringat adalah leher,
punggung, dan dada. Biang keringat dapat mengenai siapa
saja, baik anak-anak, remaja,
ataupun orang tua. Upaya pencegahan yang dilakukan adalah dengan menjaga
kebersihan kulit, menggunakan pakaian yang menyerap keringat dan longgar, atau
apabila kulit berkeringat segera keringkan dengan tisu atau handuk. Apabila terkena biang keringat maka dapat diobati
dengan memberi bedak atau salep yang dapat mengurangi rasa gatal.
Demikian artikel tentang "Gangguan pada Sistem Ekskresi serta Upaya Pencegahan atau Penanggulangannya".
Terima kasih telah membaca, semoga bermanfaat.
Hati sebagai Organ Ekskresi
Organ-organ yang berperan dalam proses ekskresi meliputi:
- Kulit, mengeluarkan keringat;
- Paru-paru, mengeluarkan karbon dioksida dan uap air;
- Ginjal, mengeluarkan urine, dan;
- Hati, mengeluarkan Empedu dan Urea.
Selain berperan
dalam sistem
pencernaan, hati juga berperan
dalam sistem ekskresi,
yaitu mengekskresikan zat warna empedu yang
disebut dengan
bilirubin. Masih ingatkah kamu dari mana bilirubin
ini dihasilkan? Bilirubin dihasilkan dari pemecahan hemoglobin yang
terdapat pada sel darah
merah.
Sel darah
merah
hanya memiliki rentang waktu hidup antara 100 - 120
hari karena
sel darah
merah
tidak memiliki inti sel dan membran
selnya selalu bergesekan dengan
pembuluh kapiler darah. Karena tidak memiliki
inti sel, sel
darah merah tidak dapat membentuk
komponen baru untuk menggantikan
komponen sel yang rusak.
Perhatikan gambar di bawah ini.
Gambar Struktur Anatomi Hati
Sel darah merah
yang rusak
akan dihancurkan
oleh makrofag
di dalam
hati dan limpa. Hemoglobin
yang terkandung
dalam sel darah merah dipecah menjadi zat
besi, globin, dan hemin.
Zat besi selanjutnya
dibawa menuju
sumsum merah
tulang untuk digunakan membentuk hemoglobin
baru. Globin dipecah menjadi
asam amino
untuk digunakan
dalam pembentukan`protein
lain. Sedangkan hemin diubah menjadi
zat warna hijau yang disebut biliverdin.
Biliverdin kemudian diubah menjadi bilirubin yang merupakan
zat warna kuning oranye. Bilirubin selanjutnya
dikeluarkan bersama getah empedu. Getah empedu dikeluarkan ke usus dua belas jari, kemudian menuju usus besar. Di dalam usus besar bilirubin diubah menjadi urobilinogen. Urobilinogen diubah menjadi urobilin sebagai pewarna kuning pada urine
dan sterkobilin
sebagai pigmen cokelat pada feses. Perhatikan gambar di bawah ini!
Bagan Proses Pemecahan Sel Darah Merah
Untuk lebih memahami bagan di atas, silahkan menonton video di bawah ini
Organ hati juga berfungsi mengubah
amonia (NH3) yang berbahaya
jika berada dalam tubuh, menjadi zat yang lebih aman, yaitu urea. Amonia tersebut
dihasilkan dari proses
metabolisme asam amino.
Urea dari dalam hati akan dikeluarkan dan diangkut oleh darah menuju
ginjal untuk dikeluarkan bersama urine.
Terima kasih telah membaca, semoga bermanfaat.
SISTEM EKSKRESI MANUSIA
Sistem ekskresi merupakan suatu sistem di dalam tubuh kita yang bertugas untuk mengeluarkan zat-zat sisa dari proses metabolisme tubuh. Zat-zat sisa proses metabolisme tersebut harus dikeluarkan, selain tidak diperlukan lagi oleh tubuh, juga karena dapat membahayakan tubuh.
Organ-organ yang berperan dalam proses ekskresi meliputi:
- KULIT, mengeluarkan keringat yang mengandung air, NaCl, sisa metabolisme sel, urea, dan asam;
- Paru-paru, mengeluarkan CO2 (karbon dioksida) dan H2O (Uap air);
- GINJAL, mengeluarkan urine yang mengandung air, NaCl (garam), asam urat, urea, dan kreatinin, dan;
- HATI, mengeluarkan Empedu dan Urea
Untuk melihat materi lengkap, silahkan klik pada nama organ (berwarna merah) sebagai link materinya.
Terimakasi, semoga bermanfaat.
Ginjal sebagai Organ Ekskresi
Organ-organ yang berperan dalam proses ekskresi meliputi:
- Kulit, mengeluarkan keringat;
- Paru-paru, mengeluarkan karbon dioksida dan uap air;
- Ginjal, mengeluarkan urine, dan;
- Hati, mengeluarkan Empedu dan Urea.
Apabila sebuah ginjal
dipotong melintang, maka
akan tampak tiga lapisan (gambar c). Bagian luar disebut korteks renalis atau kulit ginjal, di bawahnya
terdapat medula renalis,
dan di bagian dalam terdapat
rongga yang disebut
rongga ginjal
atau pelvis renalis. Ginjal
tersusun atas lebih
kurang
1 juta alat penyaring
yang disebut dengan nefron (gambar d).
Gambar Ginjal dan Struktur Penyusunnya
Nefron merupakan satuan struktural dan fungsional ginjal karena
nefron merupakan unit
penyusun utama ginjal dan unit yang berperan
penting dalam proses penyaringan darah. Sebuah nefron terdiri atas sebuah
komponen penyaring atau badan Malpighi yang
dilanjutkan oleh saluran-saluran (tubulus). Setiap badan Malpighi mengandung
gulungan kapiler darah yang disebut glomerulus
yang berada dalam kapsula Bowman. Pada bagian inilah
proses penyaringan darah dimulai. Perhatikan gambar di bawah ini agar kamu dapat melihat
struktur badan Malpighi dengan lebih jelas.
Gambar Struktur Badan Malpighi
Medula renalis (bagian tengah
ginjal) tersusun atas saluran- saluran yang merupakan kelanjutan dari badan
Malpighi dan saluran yang ada di bagian korteks renalis. Saluran-saluran itu
adalah tubulus proksimal, lengkung
Henle, tubulus distal, dan tubulus kolektivus (pengumpul) yang terdapat pada
medula. Lengkung Henle adalah
saluran ginjal yang melengkung pada daerah medula yang menghubungkan tubulus
proksimal dengan tubulus distal. Pelvis
renalis atau rongga ginjal berfungsi sebagai penampung urine sementara
sebelum dikeluarkan melalui ureter. Untuk lebih memahami proses penyaringan
yang terjadi di dalam ginjal, ayo kita lakukan aktivitas berikut ini.
Proses pembentukan
urine di
dalam ginjal
melalui tiga
tahapan? Ketiga
tahapan tersebut
adalah
tahap filtrasi,
tahap reabsorpsi, dan tahap
augmentasi.
a. Tahap Filtrasi
Pembentukan urine dimulai dari darah mengalir melalui arteri aferen
ginjal masuk ke dalam glomerulus yang tersusun atas kapiler- kapiler darah.
Ketika darah masuk ke glomerulus, tekanan darah menjadi tinggi sehingga
mendorong air dan zat-zat yang memiliki ukuran
kecil keluar melalui
pori-pori kapiler, dan menghasilkan filtrat. Cairan hasil penyaringan tersebut
(filtrat), tersusun atas urobilin, urea, glukosa, air, asam amino,
dan ion-ion seperti
natrium, kalium, kalsium, dan klor. Filtrat selanjutnya
disimpan sementara di dalam kapsula Bowman (gambar di bawah ini). Darah dan protein
tetap tinggal di dalam kapiler darah karena tidak dapat menembus pori-pori
glomerulus. Filtrat yang tertampung di kapsula Bowman disebut urine primer. Tahapan pembentukan urine
primer ini disebut tahap ftltrasi.
Gambar Proses Filtrasi
b. Tahap Reabsorbsi
Urine primer yang terbentuk pada tahap filtrasi masuk ke
tubulus proksimal. Di dalam tubulus proksimal terjadi proses penyerapan
kembali zat-zat yang masih diperlukan oleh tubuh yang disebut dengan tahap reabsorpsi.
Glukosa, asam amino, ion kalium, dan zat-zat yang masih diperlukan oleh tubuh
juga diangkut ke dalam sel dan kemudian ke dalam kapiler darah di dalam ginjal.
Sedangkan urea hanya sedikit yang diserap kembali.
Gambar Proses Augmentasi
Cairan yang dihasilkan dari proses reabsorpsi disebut urine sekunder. Urine sekunder
mengandung air, garam, urea, dan urobilin. Urobilin inilah yang memberikan
warna kuning pada urine, sedangkan urea yang menimbulkan bau pada urine. Urine
sekunder yang terbentuk dari
proses reabsorpsi selanjutnya mengalir ke lengkung Henle kemudian menuju tubulus
distal. Selama mengalir dalam lengkung Henle air dalam urine sekunder juga
terus direabsorpsi.
c. Tahap Augmentasi
Setelah melalui lengkung Henle, urine sekunder sampai pada tubulus distal.
Pada bagian tubulus
distal masih ada proses penyerapan air, ion natrium, klor, dan
urea. Pada tubulus distal terjadi proses augmentasi, yaitu pengeluaran zat-zat
yang tidak diperlukan tubuh ke dalam urine sekunder. Urine sekunder yang telah
bercampur dengan zat-zat sisa yang tidak diperlukan tubuh inilah yang merupakan urine
sesungguhnya. Urine tersebut
kemudian disalurkan ke pelvis renalis (rongga ginjal). Urine yang
terbentuk selanjutnya keluar dari ginjal melalui ureter, kemudian menuju
kandung kemih yang merupakan tempat menyimpan urine sementara (gambar di bawah ini).
Kandung kemih memiliki dinding yang elastis. Kandung kemih mampu meregang untuk dapat
menampung sekitar 0,5 L urine.
Proses pengeluaran urine dari dalam kandung kemih disebabkan oleh adanya tekanan di dalam kandung
kemih. Tekanan pada kandung kemih disebabkan
oleh adanya sinyal yang menunjukkan bahwa kandung kemih sudah penuh.
Sinyal penuhnya kandung kemih memicu adanya kontraksi
otot perut dan otot-otot kandung kemih. Akibat kontraksi ini urine dapat keluar
dari tubuh melalui uretra.
Sistem dalam Pembentukan Urine
Agar lebih mendalami tentang struktur dan fungsi ginjal sebagai sistem ekskresi, silahkan tonton video di bawah ini:
Terima kasih telah membaca, semoga bermanfaat.
Kulit sebagai Organ Ekskresi
Organ-organ yang berperan dalam proses ekskresi meliputi:
- Kulit, mengeluarkan keringat;
- Paru-paru, mengeluarkan karbon dioksida dan uap air;
- Ginjal, mengeluarkan urine, dan;
- Hati, mengeluarkan Empedu dan Urea.
Kulit merupakan organ ekskresi yang berperan dalam pembentukan dan pengeluaran keringat. Selain itu, kullit juga berfungsi:
- melindungi jaringan di bawahnya dari kerusakan-kerusakan fisik karena gesekan, penyinaran, berbagai jenis kuman, dan zat kimia berbahaya;
- mengurangi kehilangan air dalam tubuh, dan menerima rangsangan dari luar.
Gambar struktur kulit manusia
Kulit terdiri atas tiga lapisan, yaitu lapisan kulit ari (epidermis), lapisan kulit jangat (dermis), dan jaringan bawah kulit.
A. Lapisan Kulit Ari (Epidermis)
Kulit ari (epidermis) merupakan lapisan kulit paling luar yang tersusun atas sel-sel epitel yang mengalami keratinasasi. Pada lapisan epidermis tidak terdapat pembuluh darah maupun sel saraf. Lapisan epidermis tersusun dari tiga lapisan, yaitu lapisan tanduk (stratum korneum), lapisan granula (stratum granulosum), dan stratum germinativum.
Lapisan Tanduk (Stratum Korneum)
Lapisan tanduk (stratum korneum) berada pada bagian paling luar, yang merupakan jaringan mati yang terdiri atas banyak lapis sel pipih. Lapisan tanduk sering mengelupas dan digantikan oleh jaringan di bawahnya dan mencegah masuknya kuman penyakit.
Lapisan Granula (Stratum Granulosum)
Lapisan granula (stratum granulosum) terletak di bawah lapisan tanduk. Lapisan ini terdiri atas sel bergranula yang lama-kelamaan akan mati dan kemudian terdorong ke atas menjadi bagian lapisan tanduk. Lapisan ini terdapat pigmen melanin yang memberikan warna pada kulit dan melindungi kulit dari sengatan sinar matahari. Warna pigmen kulit bermacam-macam sehingga ada orang yang berkulit hitam, sawo matang, atau kuning langsat. Apabila lapisan ini tidak mengandung pigmen kulit, orang tersebut menderita albino.
Stratum Germinativum
Stratum germinativum tersusun dari dua lapisan sel. (1) Lapisan atas (stratum spinosum) mengandung sel-sel baru, yang akan terdorong ke atas menjadi bagian lapisan granula (2) Lapisan bawah (statum basal) mengandung sel-sel baru yang dibuat oleh sel yang terus-menerus membelah.
b. Kulit Jangat (Dermis)
Kulit jangat (dermis) terletak di bawah lapisan kulit ari. Di dalam kulit jangat terdapat pembuluh darah, kelenjar keringat (glandula sudorifera), kelenjar minyak (glandula sebasea), dan kantong rambut. Selain itu, terdapat juga ujung-ujung saraf yang terdiri atas ujung saraf peraba dingin (korpuskula Krausse), peraba tekanan (korpuskula Paccini), peraba panas (korpuskula Ruffini), peraba sentuhan (korpuskula Meissner), dan peraba nyeri.
Kelenjar keringat (glandula sudorifera) berbentuk pipa terpilin, memanjang dari epidermis hingga masuk ke bagian dermis. Pangkal kelenjarnya menggulung, dikelilingi oleh kapiler darah dan serabut saraf simpatik. Dari kapiler darah inilah, kelenjar keringat menyerap cairan jaringan yang terdiri atas air, larutan garam, dan urea. Cairan jaringan tersebut dikeluarkan sebagai keringat melalui saluran kelenjar keringan dan akhirnya dikeluarkan melalui pori-pori kulit. Pengeluaran keringat dipengaruhi oleh cuaca (panas atau dingin), aktivitas, makanan, dan minuman.
Kelenjar minyak (glandula sebasea) menghasilkan minyak yang disebut sebum yang berguna untuk meminyaki rambut aga tidak kering. Di bagian bawah kantong rambut terdapat pembuluh kapiler yang mengangkut sari makanan ke akar rambut sehingga rambut terus tumbuh. Di dekat akar rambut terdapat otot rambut. Pada saat kita takut atau dingin, otot rambut berkontraksi sehingga rambut menjadi tegak.
c. Jaringan Bawah Kulit (Hipodermis atau Subkutan)
Pada jaringan bawah kulit (subkutan) terdapat jaringan lemak (adiposa). Jaringan lemak berfungsi untuk menyimpan lemak sebagai cadangan makanan dan menjaga suhu tubuh agar tetap hangat.
Berikut saya berikan video animasi tentang bagian kulit
Terima kasih telah membaca, semoga bermanfaat









